Post Terbaru
Diam
Aku menatapmu dengan pasti di kala senja Sungguh merona dan rupawan, ku coba mengingat garis lekukan wajah, agar pada detik tak bersua kau ...
Aku menatapmu dengan pasti di kala senja
Sungguh merona dan rupawan, ku coba mengingat garis lekukan wajah, agar pada detik tak bersua kau terlukis dengan jelas..
Mataku selalu meredup, jika kau berlalu di hadapan, karena maluku untuk menatap
Pada detik yang bagiku mustahil, kau berlirih penuh cinta mengungkap rasa
Kita bersapa dan bertukar cerita , entah sesak, air mata ataupun hal bahagia
Namun, pada detik berikutnya kau menyerah
Pada alasan memilukan, tau kah engkau bagaimana diri menjadi remuk ?
Bertemu dan berpapasan denganmu adalah siksa, ucapan dan ktersediaan dirimu pada orang lain adalah hancur, wajah tanpa senyummu adalah luka, dan jawaban seada mu adalah binasa
Setersiksa itukah mencinta, pada tawa yang hrusnya menjadi milikku
Namun pada detik berikutnya, ku prcaya ketenanganmu akan segera berjumpa, mungkim bukan aku, nmun do'a ku sllu ada menghias setiap wjahmu berlalu di hadapan..
Terimakasih pernah mmbingkai kisahku, meski tak kau peluk, nmun setidaknya kau mampu membuatku percaya, cinta itu adalah Allah
Nurhalimah Zakiah November 15, 2021 New Google SEO Bandung, IndonesiaTetaplah bisu meski hak mu terbunuh..
Terhardik dan termaki cacian pilu seadanya..
Kau di cari dan di buru, oleh hati menggebu yang tak bertuan..
Cukup kau diam dan membisu, ketika amarah membuncah tertuang kepadamu..
Tak perlu pilu pun berucap, karena hakmu hanya diam dan mendengar ..
Sesak? Tetaplah katup kedua mulut, krn hakmu hanya mendengar..
Lelah?? Tetaplah katup kedua mulut, krn hakmu tetap hanya mendengar..
Kau berharap suara? Sebait kata berurai tersampaikan?
Jangan.. kau kan lebih hancur tersiksa , tersiksa karena bersuara..
Jangan bersuara, tetaplah bisu meski hakmu terbunuh..
Nurhalimah Zakiah September 23, 2020 New Google SEO Bandung, IndonesiaAku terdiam..
Sesekali menatap, namun kembali tertunduk..
Aku terdiam..
Ruangan luas itu menyempit, layaknya nafasku yang kini tersengal..
Ruangan luas itu berteriak, layaknya jiwaku yang kini meronta..
Ruangan luas itu meredup, layaknya asa ku yang telah padam..
Hiruk pikuk dunia , penuh ambisi nan menyiksa , bertepuk pada pecundang dengan tawa buatan, menangis pada pejuang dengan air mata kesyirikan, dan memeluk para pemula dengan tikaman yang menyakitkan..
Dunia ambisi, mengoyak iman para pemimpi , tergoyah hanya demi sebuah luka opini..
Aku terdiam..
Dunia telah membiarkanku menghilang, menghilang tanpa iman, menghilang dengan sesal dan meronta, menghilang dengan gelar pecundang..
Aku terdiam, kini kaku dan kedinginan..
Ruangan luas itu kini bisu, saksi pilu pada jiwa yang telah mengadu pada sudut sesal itu..
Nurhalimah Zakiah Mei 01, 2020 New Google SEO Bandung, IndonesiaRamadhan
Suatu bulan yang di tunggu-tunggu kaum mukmin, bagaimana tidak, bulan ini Allah curahkan rahmatNya kepada hamba-hambanya untuk kembali menujuNya.. Allah limpahkan karuniaNya kepada hamba-hambaNya untuk kembali mengingatNya.. Allah , tuhan semesta alam memberi ampunan tanpa batas, namun mengapa kita terkadang meminta dengan batas? Ya, berbatas dengan kalimat ampuni hambaMu ya Robb, terlalu lelah dengan ucapan berulang kali dg kalimat itu.. apakah kita merasa bahwa diri ini telah bersih sempurna? Tidak sahabatku, seluas ampunan tuhanmu, bukan berarti cukup sekali kalimat indah itu kita lontarkan .. berapa ingkar yang kita lakukan kepada robbul 'alamin, brapa hati yang kita sakiti dengan lisan kita? Berapa orang yang kita bicarakan aib nya? Berapa orang yang kita rendahkan harga dirinya dan berapa keangkuhan dalam diri karena merasa paling sempurna? Allahummaghfirliii, ucapkanlah beribu kali semampumu , selama tarikkan nafasmu, Allah akan selalu mengampuni maka jangan pernah lelah memohon ampun padaNya , jangan pernah lelah memhon ampun pada Nya..
Melalu ramadhan kali ini, bukalah hati menerima hidaya illahi, ikhlaskan diri untuk berbenah agar ketenangan menyertai khidupan kita..
Allah menghadirkan beragam cerita dalam kehidupan, meski tanpa kita sadari Allah menitipkan berjuta pesan dalam cerita yang dibingkai beragam olehNya.. ya, bingkai yang kadang terlihat elok, bingkai yang kadang terlihat lusuh atau bahkan bingkai yang terlihat tak layak.. namun pernahkah kita berfikir bahwa dibalik bingkai itu, ada cintaNya yang terpahat rapi dalam bingkai yang Dia beri padamu.. seketika kau mungkin marah, ingin berteriak atau bahkan remuk redam jika mendapati bingkaimu dalam kondisi tak layak, kau jijik dan ingin membuangnya, namun berhentilah sejenak , apa yang ada di baliknya ?? Kau belum memeriksa semua sisi dalam bingkai itu, kau akan menyesal karena kau tidak pernah tau bahwa Allah menitipkan cintaNya padamu dlm bntuk bingkai tak layak dan jaminan luar biasa untukmu ketika kau menerima dan merawatnya
Nurhalimah Zakiah Januari 24, 2020 New Google SEO Bandung, IndonesiaHari ini..
Di tempat sepi ini, aku mulai bergumam di dalam hati..
Terbesit tanya tak bertepi, akankah aku di bersamai di alam yg berbeda nanti ..
Jantungku mulai terasa sesak, tergopoh riuh tak bertenaga..
yang ku ingat hanya satu pinta, bawa aku ke dunia yg indah tanpa celah..
Aku sendiri disini, berharap suatu waktu, ku temui kasih bermata sendu, melirik teduh wajah nan kusut ini..
Merangkai cerita, hingga ku lupa bahwa aku pernah sendiri..
Wahai waktu yg bersembunyi, ku ingin bertanya pada detakan mu yg tak kunjung menyapa.. Hadirlah, bawa aku pada bahagia, hingga ku lupa bahwa sakit itu pernah ada..
Nurhalimah Zakiah Februari 27, 2019 New Google SEO Bandung, IndonesiaSalah..
Salah sudah ku maknai kata pisah
Demi jarak yang inginku cipta demi cinta
Cinnta abadi yang tak sekedar opini duniawi
Bukanku ingin beralih, karena bukan jejak yang ingin ku tinggali, tapi pijakan yang ingin ku jamahi...
Remuk redam jiwaku, menciptakan bebatuan dalam jiwamu..
Sia-sia sudah ku rangkai asa, demi bingkai yang ku rasa sempurna..
Sia-sia sudah ku ukir kisah, bhkan tawa pun tak menyapa..
Aku telah salah mengartikan jarak, karena kau berlalu karenanya..
Aku telah salah mengartikan pergi, karena pintuku pun masih ternganga dengan goresan duri..
Aku telah salah memberi jejak, karena pijakanku masih terasa hangat..
Aku mulai tak memahami rasa..
Mengapa ia tak beralih untuk sekdar bepindah menyelamatkan diri..
Lelah sudah ku buat ia binasa, karena enggannya utk binasa..
Oh rasa, tak kah kau lelah?
Oh rasa, tak kah kau ingin pergi?
Ayolah, binasalah dg semestinya, agar cabikanmu tak semakin membunuhmu..
Ku lelah biarkan kau binasa tnpa terluka, ku lelah biarkan kau binasa tnpa terbunuh..
Apa kau inginku memaksa?
Hingga kau dngan sendirinya berlalu?
Hargai hatiku yg tak punya nyali utk mencari penawar..
hargai hatiku yg mlai lelah utk izinkan penghuni..
Aku mulai tak memahami rasa, karenanya aku tak punya bahasa utk memaksa ..
Kalau anda seorang pria, tolong baca sekali lagi judul diatas!. Jelas?. Nah, tolong anda stop sampai disini. Klik postingan lain saja!. Tulisan ini bukan untuk anda. Ini khusus untuk wanita. Kami mau bicara masalah kami, masalah perempuan. Tolong jangan ikut-ikutan. Tidak mau juga?. Masih ingin meneruskan membaca?. Okey!. Kondisi memang tidak memungkinkan saya untuk memaksa anda. Tapi asal anda tahu, bahwa penggunaan kata “kita”dan “kawan” dalam tulisan ini, yang saya maksud adalah teman-teman saya sesama wanita. Tidak termasuk anda-anda yang berjenis kelamin pria. Ma’af!.
Entah, darimana asal-muasalnya. Kita, kaum perempuan ini, sampai terperangkap dalam stigma-stigma negatif yang dapat merendahkan martabat kita sebagai manusia. Bagaimana sejarahnya dulu, sampai kita dianggap kurang memakai otak. Dianggap lebih emosional ketimbang rasional. Kita dituduh sebagai mahluk yang lebih menggunakan insting daripada akal. Emangnya, kita ini tergolong dari jenis setengah mamalia apa?. Padahal, kalau dipikir-pikir, justru kaum lelaki-lah yang seperti itu. Justru, yang berjenis kelamin pria-lah manusia yang paling jarang menggunakan otaknya. Tidak percaya?, mari kita tela’ah obyek dibawah ini. Kita ambil masalah yang paling fundamental bagi kehidupan umat manusia, yaitu: tentang Cinta!.
Bicara cinta, tentu tak bisa dilepaskan dari bicara tentang perkawinan. Sampai sekarang, belum pernah saya dengar ada istilah wanita menikahi pria. Selalu wanita yang dinikahi pria. Penggunakan kata “me” dan “di” dalam kawin-mawin, jelas-jelas menggambarkan, bahwa selama ini telah terjadi adanya ketidak-setaraan didalam percintaan antara pria dan wanita. Seolah-olah pria-lah pihak yang selalu menyerang, sedangkan wanita adalah pihak yang diserang. Kebiasaan ini telah membuahkan makna, bahwa perkawinan bagi seorang pria, merupakan manifestasi dari insting agresifitas alamiahnya. Sedangkan perempuan, lebih memandang pernikahan sebagai puncak karir kodrat ilahiyahnya. Suatu kenyataan hidup yang harus dijalani. Sebuah kepasrahan yang realistis.
Saya tidak tahu, apakah naturenya memang demikian. Oleh karena itu, saya anggap sah-sah saja apabila saya katakan, bahwa seorang pria hanya mau menikah dengan wanita-wanita yang disukainya. Sebaliknya, seorang wanita hanya bersedia menikah dengan seorang lelaki yang dia anggap mencintainya. Artinya, dalam memutuskan pernikahan, pria lebih mendasarkan pertimbangannya pada emosi, pada egonya, mengabaikan faktor rasio. Sedangkan bagi wanita, walaupun masalah cinta adalah masalah hati, tetap saja mereka tidak pernah menafikan unsur akal. Biar cinta setengah mati, tapi untuk bersedia menikah, wanita selalu realistis dan rasional. Selalu menggunakan otak. Menimbang-nimbang dulu, bagaimana masa depan keluarga yang akan kita bangun. Menganalisa kecintaan sang kekasih, apakah nantinya bisa tahan lama atau tidak. Juga tak lupa untuk menelisik prospek ke”pribadi”an si calon suami: rumah pribadinya, mobil pribadinya dan deposito pribadinya. Rasional!, rasional sekali.
Cinta, selalu melahirkansebuah efek pasti. Bahkan lebih pasti dari ilmu pasti. Efek itu adalah: apalagi kalau bukan tentang (sorry) aktivitas perkelaminan. Untuk masalah yang satu ini, walaupun kita selalu mampu, belum tentu kita selalu mau. Kalau kita sudah punya pasangan, tentu kita akan berpikir sejuta kali untuk mau tertarik kepada pria lain, se-Brad Pitt-pun ketampanan mereka. . Bisa saja hati kita kagum kepada seorang pria, tapi otak kita selalu mengajak kaki kita lari jika tubuh kita didekati. Ini adalah bukti, bahwa akal wanita selalu pegang kendali, walaupun hatinya berkata lain.
Tapi lelaki?. Dunia sudah tahu, kepala mereka isinya kotoran semua jika menyangkut masalah kelamin. Mereka selalu mau walaupun belum tentu mampu. Kalau sudah berurusan dengan masalah yang satu ini, biasanya laki-lakilupa akan kesadaran potensi diri. Se-profesor apapun intelektualnya, mereka terbiasa main seruduk, melupakan rumus-rumus sebab akibat. Tidak semua lelaki memang, tapi konon katanya rata-rata mereka begitu. Kurang bukti apalagi kita?. Benarkah, bahwa pria itu lebih rasional ketimbang perempuan?.Saya pikir, tak perlu seorang ahli psikologi untuk menjawab pertanyaan ini. Semua orang mahfum, apabila seorang lelaki sudah dikuasai nafsu, bukan akalnya yang mengajak kakinya lari buat menghindar. Justru otaknya sendiri yang akan lari: dari kepala menuju dengkul!.
Maaf!. Bukannya saya benci atau dendam kepada semua pria. Sungguh, Kawan!, bukannya saya pernah ditelikung oleh seorang lelaki sehingga menulis ini. Asal tahu saja, saya ini keluarga bahagia dengan dua orang anak yang menyenangkan. Suami saya juga orang baik-baik(?) dan sangat mencintai(?) saya. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa laki-laki itu, pada dasarnya, adalah mahluk yang dalam dirinya dijejali hasrat untuk menghina. Lihatlah, istilah-istilah seperti “jablay”, “perek” dan sebagainya. Bukankah itu semua lahir dari mulut lelaki?. Lalu, apa istilah jablay dan perek buat pria?. Bukankah jumlah mereka yang pantas menyandang gelar tersebut, justru lebih banyak ketimbang wanita?. Kalau ada julukan-julukan yang merendahkan martabat wanita dan pembunuhan karakter, saya yakin seyakin-yakinnya pasti itu bersumber dari manusia berjenis kelamin laki-laki. Lantas, apanya yang lebih rasional?.
Ada lagi, Kawan!. Itu, julukan “wanita tuna susila”!. Tentu, kita semua sudah tahu maksudnya. Padahal, istilah “wanita tuna susila”, sesungguhnya, kembar siam identik dengan istilah “pria tuna susila”. Kedua pihak merupakan dua sisi koin yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Tidak ada wanita tuna susila tanpa adanya pria tuna susila, begitu juga sebaliknya. Biar dibolak-balik seperti apapun, hasilnya selalu begitu dan begitu selalu seterusnya. Aneh bin ajaibnya, tidak pernah ada istilah yang kita kenal dengan judul “pria tuna susila”. Gejala apa ini?. Tak ada kalimat tepat yang dapat melukiskan gejala ini, kecuali: Sebuah diskriminasi gender yang menafikan akal sehat.
Orang-orang memahami. Menjadi wanita tuna susila, pasti bukan karena pertimbangan hobi atau semacam panggilan jiwa. Sesuatu yang berhubungan dengan faktor emosi. Semua itu dilakukan berdasarkan pertimbangan akal. Disamping karena unsur keterpaksaan, juga karena adanya kalkulasi angka-angka dalam rupiah. Sebaliknya, apa alasan lelaki saat menjalani lakon sebagai pria tuna susila?. Adakah pertimbangan akal yang digunakannya?. Tidak!, sama sekali tidak!. Perilaku mereka, seratus persen disebabkan oleh insting. Sepenuhnya dipandu oleh naluri primitif purba mereka.
Lagian, ditinjau dari sudut populasinya, jumlah wanita tuna susila tidaklah seberapa dibanding dengan total jumlah perempuan secara keseluruhan. Paling-paling hanya sekitar nol koma nol nol nol nol sekian persen. Ibarat segelas air dibanding luasnya samodra. Tapi, tahukah kita, berapa jumlah pria tuna susila?. Pria yang pernah berhubungan dengan perempuan selain pasangannya?. Ya, jumlahnya itu, Kawan!. Bisa membuat retak dada wanita yang terbuat dari baja sekalipun. Menurut survey: dua pertiga dari jumlah total pria dewasa!. Awalnya, saya pikir ini hanya survey asal-asalan, validitasnya diragukan. Tapi, dimana-mana survey, hasilnya sama saja, seperti itu juga. Ah,.. benar apa tidak ya?. Kalau memang benar, so, what wrong?. Toh, saya yakin suami saya tidak termasuk didalam jumlah itu. Saya sudah kenal beliau dua puluh tahun. Tapi, gimana ya?, wallohu a’lam juga sih, namanya juga namanya... Administrator Februari 20, 2019 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tercabik namun tak berdarahh..
Kau di bunuh perlahan, oleh orang yang menginginkan kau binasa..
Ia bermain2 dengan lemah mu, mengumbar kalimat meruntuhkanmu, dengan bahagia ia tebas dirimu..
Apakah ia bersalah? Tidak, ia mnikmati semua itu dengan gelak tanpa mrasa bersalah..
Ia, pembunuh yg ingin di bunuh










