Nurhalimah Zakiah "CETMAS" (Catatan Tinta Emas)
Home » » Tulisan Ini Khusus buat Wanita

Tulisan Ini Khusus buat Wanita


Kalau anda seorang pria, tolong baca sekali lagi judul diatas!. Jelas?. Nah, tolong anda stop sampai disini. Klik postingan lain saja!. Tulisan ini bukan untuk anda. Ini khusus untuk wanita. Kami mau bicara masalah kami, masalah perempuan. Tolong jangan ikut-ikutan. Tidak mau juga?. Masih ingin meneruskan membaca?. Okey!. Kondisi memang tidak memungkinkan saya untuk memaksa anda. Tapi asal anda tahu, bahwa penggunaan kata “kita”dan “kawan” dalam tulisan ini, yang saya maksud adalah teman-teman saya sesama wanita. Tidak termasuk anda-anda yang berjenis kelamin pria. Ma’af!.
Entah, darimana asal-muasalnya. Kita, kaum perempuan ini, sampai terperangkap dalam stigma-stigma negatif yang dapat merendahkan martabat kita sebagai manusia. Bagaimana sejarahnya dulu, sampai kita dianggap kurang memakai otak. Dianggap lebih emosional ketimbang rasional. Kita dituduh sebagai mahluk yang lebih menggunakan insting daripada akal. Emangnya, kita ini tergolong dari jenis setengah mamalia apa?. Padahal, kalau dipikir-pikir, justru kaum lelaki-lah yang seperti itu. Justru, yang berjenis kelamin pria-lah manusia yang paling jarang menggunakan otaknya. Tidak percaya?, mari kita tela’ah obyek dibawah ini. Kita ambil masalah yang paling fundamental bagi kehidupan umat manusia, yaitu: tentang Cinta!.
Bicara cinta, tentu tak bisa dilepaskan dari bicara tentang perkawinan. Sampai sekarang, belum pernah saya dengar ada istilah wanita menikahi pria. Selalu wanita yang dinikahi pria. Penggunakan kata “me” dan “di” dalam kawin-mawin, jelas-jelas menggambarkan, bahwa selama ini telah terjadi adanya ketidak-setaraan didalam percintaan antara pria dan wanita. Seolah-olah pria-lah pihak yang selalu menyerang, sedangkan wanita adalah pihak yang diserang. Kebiasaan ini telah membuahkan makna, bahwa perkawinan bagi seorang pria, merupakan manifestasi dari insting agresifitas alamiahnya. Sedangkan perempuan, lebih memandang pernikahan sebagai puncak karir kodrat ilahiyahnya. Suatu kenyataan hidup yang harus dijalani. Sebuah kepasrahan yang realistis.
Saya tidak tahu, apakah naturenya memang demikian. Oleh karena itu, saya anggap sah-sah saja apabila saya katakan, bahwa seorang pria hanya mau menikah dengan wanita-wanita yang disukainya. Sebaliknya, seorang wanita hanya bersedia menikah dengan seorang lelaki yang dia anggap mencintainya. Artinya, dalam memutuskan pernikahan, pria lebih mendasarkan pertimbangannya pada emosi, pada egonya, mengabaikan faktor rasio. Sedangkan bagi wanita, walaupun masalah cinta adalah masalah hati, tetap saja mereka tidak pernah menafikan unsur akal. Biar cinta setengah mati, tapi untuk bersedia menikah, wanita selalu realistis dan rasional. Selalu menggunakan otak. Menimbang-nimbang dulu, bagaimana masa depan keluarga yang akan kita bangun. Menganalisa kecintaan sang kekasih, apakah nantinya bisa tahan lama atau tidak. Juga tak lupa untuk menelisik prospek ke”pribadi”an si calon suami: rumah pribadinya, mobil pribadinya dan deposito pribadinya. Rasional!, rasional sekali.
Cinta, selalu melahirkansebuah efek pasti. Bahkan lebih pasti dari ilmu pasti. Efek itu adalah: apalagi kalau bukan tentang (sorry) aktivitas perkelaminan. Untuk masalah yang satu ini, walaupun kita selalu mampu, belum tentu kita selalu mau. Kalau kita sudah punya pasangan, tentu kita akan berpikir sejuta kali untuk mau tertarik kepada pria lain, se-Brad Pitt-pun ketampanan mereka. . Bisa saja hati kita kagum kepada seorang pria, tapi otak kita selalu mengajak kaki kita lari jika tubuh kita didekati. Ini adalah bukti, bahwa akal wanita selalu pegang kendali, walaupun hatinya berkata lain.
Tapi lelaki?. Dunia sudah tahu, kepala mereka isinya kotoran semua jika menyangkut masalah kelamin. Mereka selalu mau walaupun belum tentu mampu. Kalau sudah berurusan dengan masalah yang satu ini, biasanya laki-lakilupa akan kesadaran potensi diri. Se-profesor apapun intelektualnya, mereka terbiasa main seruduk, melupakan rumus-rumus sebab akibat. Tidak semua lelaki memang, tapi konon katanya rata-rata mereka begitu. Kurang bukti apalagi kita?. Benarkah, bahwa pria itu lebih rasional ketimbang perempuan?.Saya pikir, tak perlu seorang ahli psikologi untuk menjawab pertanyaan ini. Semua orang mahfum, apabila seorang lelaki sudah dikuasai nafsu, bukan akalnya yang mengajak kakinya lari buat menghindar. Justru otaknya sendiri yang akan lari: dari kepala menuju dengkul!.
Maaf!. Bukannya saya benci atau dendam kepada semua pria. Sungguh, Kawan!, bukannya saya pernah ditelikung oleh seorang lelaki sehingga menulis ini. Asal tahu saja, saya ini keluarga bahagia dengan dua orang anak yang menyenangkan. Suami saya juga orang baik-baik(?) dan sangat mencintai(?) saya. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa laki-laki itu, pada dasarnya, adalah mahluk yang dalam dirinya dijejali hasrat untuk menghina. Lihatlah, istilah-istilah seperti “jablay”, “perek” dan sebagainya. Bukankah itu semua lahir dari mulut lelaki?. Lalu, apa istilah jablay dan perek buat pria?. Bukankah jumlah mereka yang pantas menyandang gelar tersebut, justru lebih banyak ketimbang wanita?. Kalau ada julukan-julukan yang merendahkan martabat wanita dan pembunuhan karakter, saya yakin seyakin-yakinnya pasti itu bersumber dari manusia berjenis kelamin laki-laki. Lantas, apanya yang lebih rasional?.
Ada lagi, Kawan!. Itu, julukan “wanita tuna susila”!. Tentu, kita semua sudah tahu maksudnya. Padahal, istilah “wanita tuna susila”, sesungguhnya, kembar siam identik dengan istilah “pria tuna susila”. Kedua pihak merupakan dua sisi koin yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Tidak ada wanita tuna susila tanpa adanya pria tuna susila, begitu juga sebaliknya. Biar dibolak-balik seperti apapun, hasilnya selalu begitu dan begitu selalu seterusnya. Aneh bin ajaibnya, tidak pernah ada istilah yang kita kenal dengan judul “pria tuna susila”. Gejala apa ini?. Tak ada kalimat tepat yang dapat melukiskan gejala ini, kecuali: Sebuah diskriminasi gender yang menafikan akal sehat.
Orang-orang memahami. Menjadi wanita tuna susila, pasti bukan karena pertimbangan hobi atau semacam panggilan jiwa. Sesuatu yang berhubungan dengan faktor emosi. Semua itu dilakukan berdasarkan pertimbangan akal. Disamping karena unsur keterpaksaan, juga karena adanya kalkulasi angka-angka dalam rupiah. Sebaliknya, apa alasan lelaki saat menjalani lakon sebagai pria tuna susila?. Adakah pertimbangan akal yang digunakannya?. Tidak!, sama sekali tidak!. Perilaku mereka, seratus persen disebabkan oleh insting. Sepenuhnya dipandu oleh naluri primitif purba mereka.
Lagian, ditinjau dari sudut populasinya, jumlah wanita tuna susila tidaklah seberapa dibanding dengan total jumlah perempuan secara keseluruhan. Paling-paling hanya sekitar nol koma nol nol nol nol sekian persen. Ibarat segelas air dibanding luasnya samodra. Tapi, tahukah kita, berapa jumlah pria tuna susila?. Pria yang pernah berhubungan dengan perempuan selain pasangannya?. Ya, jumlahnya itu, Kawan!. Bisa membuat retak dada wanita yang terbuat dari baja sekalipun. Menurut survey: dua pertiga dari jumlah total pria dewasa!. Awalnya, saya pikir ini hanya survey asal-asalan, validitasnya diragukan. Tapi, dimana-mana survey, hasilnya sama saja, seperti itu juga. Ah,.. benar apa tidak ya?. Kalau memang benar, so, what wrong?. Toh, saya yakin suami saya tidak termasuk didalam jumlah itu. Saya sudah kenal beliau dua puluh tahun. Tapi, gimana ya?, wallohu a’lam juga sih, namanya juga namanya...

Thanks for reading & sharing Cetmas (Coretan Tinta Emas)

Previous
« Prev Post

0 Comments:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Kata Bijak

Motivation

Popular Posts

Jadwal Sholat